ISLAM DI JAWA

BAB I

PENDAHULUAN

Islam memang tidak bisa dilepaskan dengan lingkungan di mana agama ini diturunkan, yakni di tanah Arab. Artefak budaya Islam yang nyaris keseluruhannya mengandung unsur budaya dan tradisi Arab dan seakan-akan menjadi sentrum budaya dominan ketika berbicara tentang Islam. Pandangan yang berakar dari perpektif patron-client ini pada gilirannya memunculkan problem otensitas yang tidak kunjung selesai. Islam dan Arab menjadi dua sisi mata uang yang tidak bisa dilepaskan, sehingga yang tidak berakar dari Arab atau yang telah berasimilasi dengan unsur budaya lain kerap di sebut sebagai tidak “Islami”.

Di sinilah problem Islam yang otentik kemudian muncul menjadi persoalan besar masyarakat Islam di awal abad ke-20. Problem dua kutub, Islam global dan Islam lokal menjadi diskursus yang melelahkan dan tidak kunjung terpecahkan. Tulisan ini merupakan telaah singkat tentang salah satu ikon indentitas keislaman masyarakat Jawa. Realitas ke-“Jawa”-an merupakan salah satu element yang sangat berpengaruh dalam memahami Islam dalam konteks masyarakat Jawa. Pada akhirnya, Islam yang berkembang dalam masyarakat Jawa terlibat dalam perdebatan “otensitas Islam”, dan merupakan bukti pemahaman Islam yang partikular dalam sistem nilai yang universal.

BAB II

ISLAM DI JAWA

  • Asal Usul Islam di Jawa

Pada masa awal kedatangan Islam di Kepulauan Nusantara khususnya di Jawa, masyarakat telah menganut dan memiliki berbagai kepercayaan dan agama seperti animisme, dinamisme, Hindu dan Budha. Pada masa itu kepercayaan dan agama tersebut telah melekat dan mendarah daging dalam kehidupan masyarakat.

Dakwah di tengah-tengah masyarakat semacam itu memiliki kesulitan tersendiri. Tidak mudah melaksanakan dakwah Islam agar proses islamisasi berlangsung secara efisien dan efektif. Ini membutuhkan waktu ratusan tahun lamanya. Jika akhirnya Islam dapat dianut oleh mayoritas masyarakat Jawa, bagaimanapun kualitasnya merupakan suatu yang harus disyukuri.

Keberhasilan misi dakwah Islam tersebut selain merupakan kehendak dan karunia Ilahi, sudah barang tentu juga ditentukan oleh adanya kesungguhan dan kegigihan para da’i, mubaligh serta guru agama terutama mereka yang tergabung dalam apa yang disebut dengan “Wali Songo”. Merekalah yang dipandang sebagai perintis dakwah yang berhasil meletakkan landasan kehidupan Islam dalam masyarakat Jawa.

Bersamaan dengan proses Islamisasi terjadi pula disintegrasi serta disorientasi masyarakat Jawa, sehingga diperlukan identitas baru dengan nilai-nilai baru. Dengan merosotnya kekuasaan pusat Hindu-Budha maka perubahan struktural masyarakat mengkibatkan perubahan struktur kekuasaan. Dalam hal ini Islam merupakan tiang pendukungnya. Adapun tentang pendapat yang mengatakan bahwa yang mula-mula menerima Islam adalah kelompok penguasa dan bangsawan, banyak ahli sejarah menerima pendapat tersebut. Konversi agama penguasa ini kemudian diikuti oleh penduduk daerah kekuasaan penguasa

tersebut. Pola penerimaan Islam seperti ini dapat ditemukan dalam sumber sejarah tradisional, seperti Hikayat Raja-raja Pasai, Sejarah Melayu dan Babad Tanah Jawa.  Menurut “teori perdagangan” para penguasa itu menerima Islam dengan motif agar mereka dapat masuk dalam jaringan perdagangan internasional yang pada saat itu sebagian besar dikuasai oleh pedagang muslim. Sedangkan menurut “teori sufi” para penguasa menerima Islam karena otoritas kharismatik dan kekuatan magis para sufi. Lebih dari itu, sebagian guru sufi bahkan mengawini putra-putri bangsawan mereka sehingga dapat memberikan anak/keturunan kepada mereka dengan gengsi darah bangsawan dan sekaligus aura keilahian dan kharisma keagamaan.

Uka Tjandrasasmita menyimpulkan bahwa paling kurang terdapat lima saluran Islamisasi di nusantara, termasuk di Jawa, yaitu:

a)      Saluran perdagangan, pada tahap permulaan islamisasi, perdagangan menjadi saluran yang dominan.

b)      Saluran perkawinan, merupakan semacam lanjutan dari perdagangan.

c)      Saluran tasawuf, mulai berjalan pada abad ke-13 seiring dengan dominasi paham sufi di dunia Islam.

d)     Saluran pendidikan, mulai berjalan setelah Islam mendapatkan tempat dalam  masyarakat, seperti pesantren di Giri yang mulai terkenal pada abad ke 15 – 17 M di bawah asuhan Sunan Giri dan kemudian dilanjutkan oleh Sunan Prapen yang dalam berita asing disebut Raja Bukit.

e)      Saluran seni, dengan menggabungkan antara peninggalan seni pra-Islam dengan seni Islami, seperti yang dilakukan oleh Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga

Dalam pendapat lain mengenai kapan Islam masuk ke tanah Jawa, sumber Babad hanya menceriterakan bahwa komunitas Islam telah tumbuh di lingkungan kota pelabuhan Surabaya, Gresik dan Tuban sekalipun Kerajaan Hindu Majapahit masih berkuasa. Kota-kota pelabuhan Kerajaan Majapait itu sesungguhnya telah tumbuh sejak akhir abad ke-13 dan meningkat pada abad ke-15-16, serta telah memiliki jaringan pelayaran dan perdagangan dengan Pasai dan Malaka, serta daerah Maluku dan Nusa Tenggara Timur. Sumber Babad menjelaskan bahwa penyebaran Islam dilakukan oleh para mubalig atau da’i yang terkenal dengan sebutan Wali. Sesungguhnya jumlah Wali banyak namun tradisi Jawa lebih menokoh sembilan atau sepuluh Wali, atau lebih dikenal “Wali Sanga” (“Wali Sembilan”). Mereka yang banyak disebut dalam Babad antara lain ialah Sunan Ngampel-Denta, Sunan Bonang, Sunan Giri, Sunan Kudus, Sunan Gunungjati, Sunan Murya, Sunan Dradjat, Sunan Tembayat, Sunan Walilanang (Sunan Malik Ibrahim), dan Sunan Seh Siti Jenar.

Istilah Wali diartikan sebagai “orang suci”, sementara istilah “sunan” berasal dari bahasa Jawa “suhun” artinya dihormati atau disembah. Dengan demikian, sunan merupakan gelar kehormatan yang diberikan kepada, pertama kepada orang-orang suci atau keramat yaitu para wali, dan kedua, kepada para raja Islam di Jawa di samping gelar Sultan. Mengenai asal para wali ada beberapa macam anggapan. Ada di antaranya yang dianggap berasal dari orang asing (Arab atau Persia, seperti Seh Walilanang, Gunungjati, Maulana Malik Ibrahim), dan ada yang dianggap murni orang pribumi. Namun ada pula yang beranggapan bahwa sebagian wali berasal dari orang Cina. Latar kehidupan sehari-hari para Wali juga bermancam-macam, ada yang murni sebagai seorang mubalig, ada pula yang berlatar kehidupan sebagai pedagang atau saudagar (Sunan Tembayat), dan ada pula yang berlatar belakang dari golongan elite pemerintahan ( Sunan Kalijaga yang waktu muda bernama Raden Said adalah putra Tumenggung Wilatikta di Tuban).

Ampeldenta atau Ampelkuning di Surabaya, yang terletak tidak jauh dari Gresik, disebut-sebut dalam Babad Demak dan Babad Majapahit dan Para Wali, sebagai komunitas Islam dan pesantren) pertama, yang didirikan oleh Raden Rakhmat yang kemudian bergelar Sunan Ngampel. Pendirian pemukiman itu dilakukan atas ijin raja Majapahit Brawijaya. Demikian pula penyiaran agama Islam yang dilakukan oleh Sunan Ngampel. Sekalipun Brawijaya sendiri belum mau masuk agama Islam, tetapi ia tidak melarang rakyat Majapahit masuk Islam dan berguru kepada Sunan Ngampel.

Dalam sejarah lainnya, Islam telah masuk ke Jawa pada abad ke-8. Raja SCHIMA dari Kalingga yang berkuasa pada abad ke-9 dan makam F ATIMAH Binti MAIUN Bin HIBATULLAH di desa Leran, Gresik, yang meninggal pada tahun 1028 adalah bukti bahwa lslam telah lama mulai dianut oleh penduduk Jawa. Namun selama lebih dari 7 abad, perkembangan Islam di Jawa belum mampu menembus dominasi tiga agama yang dianut oleh penguasa dan mayoritas penduduk Jawa, yaitu Hindu, Budha dan Animisme. Akan tetapi perang Paregreg tahun 1401-1406 yang merupakan puncak pertikaian penguasa Jawa sejak abad ke-ll dalam perebutan kekuasaan telah membalik keadaan. Memanfaatkan situasi yang kacau-balau akibat Perang Paregreg tersebut, tim dakwah yang dikirim oleh Sultan Turki MUHAMMAD I berhasil membuat sejarah baru proses islamisasi di Jawa.

Tim dakwah pimpinan Maulana MALIK IBRAHIM itu tiba di Jawa pada tahun 1404. Meniru cara-cara dakwah Rosululloh Saw dalam menyebarkan Islam, Maulana MALIK IBRAHIM dan kawan-kawan berhasil memikat hati para penguasa dan masyarakat untuk melihat agama Islam, karena mereka hogan dengan pertikaian agama yang sudah berlangsung selama lebih dari 6 abad, mendambakan ketenteraman kemanan dan hogan dengan keterpurukan ekonomi sebagai akibat pertikaian politik para penguasa sejak Perang Paregreg.

Akan tetapi proses Islamisasi di Jawa mulai membelok ketika Islam sudah mulai dominan di Jawa Tengah dan Jawa Timur, dengan masuknya tokoh Islam pribumi yang diawali dan dipimpin oleh Sunan Kalijogo. Di dalam proses islamisasi di daerah pedalaman yang sinkretis itu, muncul pula tokoh kontroversial yang ketenarannya hampir menyamai Sunan Kalijogo, yaitu Syekh Siti Jenar. Masyarakat Jawa sebelum datangnya agama Islam, sudah memeluk agama, yaitu Hindu-Budha dan agama asli.(Animisme). Maka, salah satunya diterapkanlah proses transformasi ‘Islam Jawa’ (semi-kebatinan); yakni lebih menonjolkan kelenturan dan kemoderatan dalam ber-Islam sehari-hari, sehingga tidak mengikis habis sisa-sisa tradisi atau adat-istiadat peninggalan kepercayaan nenek moyangnya. Oleh karena itu yang berkembang lalu kisah-kisah mistik bercampur takhayul, termasuk misteri Syekh Siti Jenar, adalah salah seorang dari penyebar agama Islam yang memasukkan unsur kebatinan di dalam ajarannya.

Kisah Walisongo yang penuh dengan mistik dan takhayul itu amat ironis, karena kisah tentang awal perkembangan Islam di Indonesia, sebuah agama yang sangat keras anti kemusyrikan. Pembawa risalah Islam, Muhammad SAW yang lahir 9 abad sebelum era Walisongo tidak mengenal mistik. Beliau terluka ketika berdakwah di Tho’if, beliau juga terluka dan hampir terbunuh ketika perang Uhud. Tidak seperti kisah Sunan Giri, yang ketika diserang pasukan Majapahit hanya melawan tentara yang jumlahnya lebih banyak itu dengan melemparkan sebuah bollpoint ke pasukan Majapahit. Begitu dilemparkan bollpoint tersebut segera berubah menjadi keris sakti, lalu berputar-putar menyerang pasukan Majapahit dan bubar serta kalahlah mereka. Keris itu kemudian diberi nama Keris Kolomunyeng,

Kisah Sunan Kalijogo yang paling terkenal adalah kemampuannya untuk membuat tiang masjid dari tatal dan sebagai penjual rumput di Semarang yang diambil dari Gunung Jabalkat. Kisah Sunan Ampel lebih hebat lagi; salah seorang pembantunya mampu melihat Masjidil Haram dari Surabaya untuk menentukan arah kiblat. Pembuat ceritera ini jelas belum tahu kalau bumi berbentuk bulat sehingga permukaan bumi ini melengkung. Oleh karena itu tidak mungkin dapat melihat Masjidil Haram dari Surabaya.

Kisah Sunan Kalijogo versi Jawa ini penuh dengan ceritera mistik. Namun demikian sebenarnya Sunan Kalijogo meninggalkan dua buah karya tulis, yang satu sudah lama beredar sehingga dikenal luas oleh masyarakat, yaitu Serat Dewa Ruci, sedang yang satu lagi belum dikenal luas, yaitu Suluk Linglung. Serat Dewa Ruci telah terkenal sebagai salah satu lakon wayang. Isi Suluk Linglung temyata hampir sama dengan isi Serat Dewa Ruci, dengan perbedaan sedikit namun fundamental. Sampai sekarang Serat Dewa Ruci merupakan kitab suci para penganut Kejawen yang sebagian besar merupakan penganggum ajaran Syekh Siti Jenar. Di dalam Suluk Linglung Sunan Kalijogo telah menyinggung pentingnya orang untuk melakukan sholat dan puasa, sedang hal itu tidak ada sama sekali di dalam Serat Dewa Ruci. Buku Suluk Linglung tersebut ditulis di atas kulit kambing, oleh tangan Sunan Kalijogo sendin’ menggunakan huruf Arab pegon berbahasa Jawa. Tahun 1992 buku diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Pada waktu Sunan Kalijogo masih berjatidiri seperti tertulis di dalam Serat Dewa Ruci, murid-murid kinasih-nya berfaham Manunggaling Kawulo Gusti (seperti Sultan Hadiwidjojo, Pemanahan, Sunan Pandanaran, dan sebagainya), sedang setelah kaffah murid dengan tauhid murni, yaitu Joko Katong yang ditugaskan untuk mengislamkan Ponorogo. Joko Katong sendiri menurunkan tokoh-tokoh Islam daerah tersebut yang pengaruhnya amat luas sampai sekarang.

Menjelang wafatnya ternyata Sunan Kalijogo menjadi kaffah mengimani Islam. Sebelumnya Sunan Kalijogo tidak setia menjalankan syariat Islam, sehingga orang Jawa hanya meyakini bahwa yang dilakukan oleh Sunan terkenal ini bukan sholat lima waktu melainkan sholat da’im ( da’im berarti terus menerus ). Jadi Sunan Kalijogo tidak sholat lima waktu melainkan sholat da’im dengan membaca Laa illaha ilalloh kapan saja dan dimana saja tanpa harus wudhu dan rukuk-sujud.

Figur para wali sebagaimana dikisahkan dalam babad dan ”kepustakaan” tutur selalu dihubungkan dengan kekuatan gaib yang dahsyat. Namun, hingga sekarang, belum tercapai ”kesepakatan” tetang siapa saja gerangan Wali nan Sembilan itu. Terdapat beragam-ragam pendapat, masing-masing dengan alasannya sendiri.

  1. A. Syi’ah dan Syafi’i di Pulau Jawa

Di Pulau Jawa, aliran Syi’ah mulai mendapat pasaran sejak berdirinya
kesultanan Paja ng pada pertengahan abad-16 di Jawa Tengah. Sebagai sultan
pertama adalah Joko Tingkir (Sultan Hadiwijoyo). Wali Syaikh Siti Jenar atau Syaikh

Lemah Abang adalah penganjur utamanya. Akibat ajarannya Syaikh Siti
Jenar dibakar hidup-hidup  oleh para wali lainnya.

Syi’ah juga dipandang ‘mbalelo’ karena tak mengakui keimanan dinasti
Abasiyah dan Umayah yang aliran Sunni.

Sementara usaha untuk memperluas aliran Syafi’i di pulau Jawa sampai akhir abad ke-15 tidak berhasil. Syaikh Maulana Ishak ditugaskan ke pulau
Jawa. Ia singgah di Ngampel Denta dan bertemu dengan Sunan Ngampel.

Dalam Serat Kanda dinyatakan dengan jelas bahwa Syaikh Ishak mendapat
tugas untuk mengislamkan wilayah Blambangan, namun usaha itu tidak
berhasil. Kemudian, ia kembali ke Malaka. Menurut Serat Kanda, Syaikh
Ishak adalah paman Raden Rahmat alias Sunan Ngampel. Sedangkan Sunan
Ngampel adalah pendat ang dari Campa, putra Bong Tak Keng, dan aliran
yang diikutinya ialah Hanafi.

  1. B. Hanafi di Pulau Jawa

Islam aliran Hanafi berkembang di kesultanan Demak. Pada 1526, sultan
Demak mengirim armada untuk menyerang Sembung (Cirebon) dan Sunda Kelapa (kini Jakarta). Armada Demak dipimpin oleh Fatahillah (Falatehan).
Kin San alias Raden Kusen yang berusia 71 tahun ditunjuk sebagai juru
bahasa.

Karena agama Islam di pantai utara Jawa adalah aliran Hanafi, maka agama Islam itu tidak disebarkan melalui Selat Malaka dan rembesan dari Sumatra, baik menurut jalur pelayaran lama maupun baru. Penyambungnya adalah orang-orang Tionghoa, bukan langsung dari Turkestan, Bokhara dan Samarkand, dimana titik awal aliran Hanafi berkembang luas.

  1. C. Strategi dakwah Wali Songo

Jasa para Walisongo memiliki peranan penting dalam mengantarkan model perjuangan para generasi da’i/kiai selanjutnya. Berkat jasa-jasanya Islam telah merambah ke pelbagai pelosok tanah Jawa, bahkan telah menyebar ke seluruh Nusantara. Perlu penulis tegaskan kembali bahwa, keberhasilan para Walisongo tidak terlepas dari strategi dakwahnya yang tepat. Islam nyaris selalu diperkenalkan kepada masyarakat melalui ruang-ruang dialog, forum pengajian, pagelaran seni dan sastra, serta aktivitas-aktivitas budaya lainnya, yang sepi dari unsur paksaan dan nuansa konfrontasi, apalagi sampai menumpahkan darah.

Strategi dakwah yang kemudian oleh sejarawan dikenal dengan model strategi akomodatif ini merupakan kearifan para penyebar Islam dalam menyikapi proses-proses inkulturasi dan akulturasi. Dari sudut pandang sosiologi, sepertinya strategi yang diterapkan Walisongo benar-benar memperhatikan seluruh konteks maupun situasi yang melingkupi masyarakat setempat sehingga nampak jelas tidak begitu mementingkan kehadiran simbol-simbol Islam yang mencerminkan budaya Timur Tengah. Justru penekanannya terletak pada nilai-nilai substantif Islam dengan kerja-kerja dakwah kultural yang penuh nuansa dialogis dan toleran.

Upaya rekonsiliasi kultural antara Islam dan budaya lokal ini kerap dilakukan oleh para Walisonggo sebagai kreasi dakwahnya, dan bukti-bukti historisnya sangat mudah dilacak, sebut misalnya ornamen yang terdapat pada bangunan masjid Wali seperti yang terdapat pada bentuk arsitektur masjid Demak dan menara masjid Kudus atau budaya kirim do’a seperti budaya tahlilan yang lazim oleh warga nahdliyin disebut slametan.

Dengan kata lain upaya rekonsiliasi antara Islam dan budaya lokal yang pernah digagas dan dikembangkan oleh para Walisongo pada akhirnya melahirkan corak Islam yang khas Melayu-Nusantra atau Islam Indonesia sebagaimana yang kita lihat sekarang.

BAB III

PENUTUP

  1. A. Kesimpulan

Islam telah masuk ke Jawa pada abad ke-8 yang di buktikan berkuasanya Raja SCHIMA dari Kalingga pada abad ke-9 dan makam F ATIMAH Binti MAIUN Bin HIBATULLAH di desa Leran, Gresik, yang meninggal pada tahun 1028.

Wali Songo adalah orang-orang yang mendakwahkan Islam di Jawa.

Uka Tjandrasasmita menyimpulkan bahwa paling kurang terdapat lima saluran Islamisasi di nusantara, termasuk di Jawa, yaitu:

f)       Saluran perdagangan, pada tahap permulaan islamisasi, perdagangan menjadi saluran yang dominan.

g)      Saluran perkawinan, merupakan semacam lanjutan dari perdagangan.

h)      Saluran tasawuf, mulai berjalan pada abad ke-13 seiring dengan dominasi paham sufi di dunia Islam.

i)        Saluran pendidikan, mulai berjalan setelah Islam mendapatkan tempat dalam  masyarakat, seperti pesantren di Giri yang mulai terkenal pada abad ke 15 – 17 M di bawah asuhan Sunan Giri dan kemudian dilanjutkan oleh Sunan Prapen yang dalam berita asing disebut Raja Bukit.

j)        Saluran seni, dengan menggabungkan antara peninggalan seni pra-Islam dengan seni Islami, seperti yang dilakukan oleh Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga

  1. B. Saran

Semoga makalah ini bermanfaat sebagai acuan bagi kita untuk mendalami sejarah masuknya Islam di Nusantara khususnya di Jawa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: